Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: WHICH IS UR FAVOURITE LEADER OF PAKISTAN? · More of this
    Search
 

   

ARTIKEL: Jangan Dukung Kebodohan
ARTIKEL: Jangan Dukung Kebodohan - jangan pilih
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin (penguasa/pelindung), jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barangsiapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpin (penguasa/pelindung), maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (At-Taubah: 23)
Ayat al-Qur'an tersebut menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya agar tidak mengangkat pemimpin yang berkarakter sesat dan kafir.
Sebagai individu muslim, sudah seharusnya totalitas hidupnya adalah beribadah kepada Allah. Ini mencakup kehidupan privasi dan kehidupan sosialnya. Sedangkan sistem dan mekanisme yang digunakan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat akan sangat berkaitan dengan kepemimpinan. Karena kepemimpinan tentu memiliki kekuasaan dan kekuatan yang juga terkait erat dengan pengaturan kehidupan. Pemimpin kafir dan tidak mengakui bahwa hidup ini adalah dalam rangka beribadah kepada Allah
atau bahkan pemimpin dari musuh-musuh Allah, ia akan menciptakan sistem dan mekanisme kehidupan masyarakatnya menjadi ingkar kepada Allah. Rakyat akan sulit menjalankan misi hidup didunia maupun akhirat.
"Barangsiapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir." (Al-Baqarah: 98)
Jangankan dalam hal kepemimpinan, dalam lingkup kerjasama pun banyak fakta historis yang sangat memilukan jika bekerjasama dengan orang-orang kafir. Cermati kembali perjanjian Hudaibiyah yang dicemari oleh orang-orang kafir diawal pertumbuhan islam itu sendiri. Begitu juga perang melawan komunisme pada perang dunia pertama, umat islam dan kafir barat bekerjasama meruntuhkan tembok komunis. Setelah berhasil, umat islam langsung disudutkan, diasingkan, dijajah, ditindas dan diburu diseluruh dunia
karena fitnah yang mereka sebarkan berupa tuduhan Radikalis, Extremis dan teroris.
"Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Sedangkan sebagian besar mereka tidak beriman (kafir)" (Al-Baqarah: 100)
Sebahagian umat islam yang mengaku telah mendapatkan hidayah Allah dan melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar dengan persepsi mereka sendiri berkilah bahwa selama sarana yang dipakai dalam pelaksanaan amar ma'ruf nahi munkar tersebut tidak melanggar aqidah islam, maka bisa saja dilakukan. Tapi menurut saya, pemikiran tersebut jangan digeneralisir begitu saja. Jika pemikiran tersebut dipraktekkan oleh umat islam seperti para ulama su' yang 'bangga' berbuat bid'ah dan tidak suka ber-tabayyun
serta yang dangkal kepintarannya (idiot/dungu), kacau spiritualitasnya lagi lemah emosinya seperti 'penggila jabatan' yang tidak mau melepas jabatanya akibat telah gagal memimpin dan melaksanakan tugasnya, maka mereka pasti akan gegabah dalam menganalisa khazanah keilmuan agama islam dan dalam praktikalnya yang dihasilkan adalah situasi-situasi yang dilematis dan saling merugikan, kegagalan target serta hanya menciptakan musibah demi musibah yang menimpa mereka dan orang lain.
Buruknya pertimbangan mereka dalam menganalisa sejauh mana KETERPAKSAAN dari kebutuhan amar ma'ruf nahi munkar yang mereka lakukan dapat menyentuh situasi KEDARURATAN, KETERSEDIAAN PILIHAN serta KONSISTENSI MISI.
Jika dalam memahami suatu hukum saja sudah salah besar, tentu dalam proses penegakan dan pengaplikasian hukum tersebut akan tidak pada tempatnya, lalu akan berimplikasi pada hasil akhir seluruh proses tadi dan tentu hasilnya pasti tidak sesuai dengan harapan. Akan sangat berakibat fatal yang berlipat kali ganda jika situasi tersebut termotivasi oleh kepentingan pribadi, keluarga dan teman daripada penegakan dan pemurnian agama islam. Sikap seperti itu adalah sikap mengemis kepada kekafiran & melacur aqidah.
"Ataukah kamu hendak meminta kepada Rasulmu (Muhammad) seperti halnya Musa (pernah) diminta (Bani Israel) dahulu? Barangsiapa mengganti iman dengan kekafiran, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus." (Al-Baqarah: 108)

Coba kita tanyakan kepada politikus muslim, apakah dengan melakukan Korupsi dan Kolusi boleh-boleh saja untuk amar ma'ruf nahi munkar karena Korupsi dan Kolusi bukanlah masalah aqidah, walau ada cara-cara lain yang jauh lebih baik daripada Korupsi dan Kolusi???
Kemudian kita tanyakan juga kepada para da'i-da'i yang mengaku telah mendapatkan hidayah Allah dan bertauhid, apakah dengan melakukan Nepotisme dan Adu domba antar sesama muslim dibolehkan agar dakwah dan jihad tetap berjalan karena Nepotisme dan Adu domba bukanlah masalah aqidah, walau banyak cara lain yang lebih efektif untuk berdakwah dan berjihad selain Nepotisme dan Adu domba sesama muslim???
Lalu tanyakan juga pada muslim yang awam, apakah Mencuri harta dan Hak orang lain juga tidak dilarang untuk mendanai perjuangan menegakkan islam karena mencuri bukanlah masalah aqidah, biarpun mencuri bukanlah satu-satunya cara mencari harta???
Akhirnya, coba tanyakan kepada diri anda sendiri, apakah dengan melakukan sesuatu yang telah dilarang oleh agama islam untuk menegakkan agama islam itu sendiri dibolehkan karena larangan tersebut tidak menyangkut masalah aqidah dalam agama islam yang tentu saja agama islam yang suci, bersih, tidak dicemari oleh bid'ah, syirik dan sepilis walau cara-cara lain untuk menegakkan agama islam lebih banyak tersedia???
Sangat aneh kedengarannya jika agama islam yang rahmat seluruh alam ini tegak akibat K.K.N. yang terlaknat itu. Salah dari segi kedaruratan, padahal ada seribu satu cara berdakwah dan berjihad yang jauh lebih baik daripada K.K.N. Salah juga dari segi ketersediaan pilihan karena tidak dibedah secara menyeluruh antara pilihan yang satu dengan pilihan yang lain. Dan salah total dari segi konsistensi misi amar ma'ruf nahi munkar yang justru tidak peduli dengan yang ma'ruf dan malah membanggakan yang munkar.

Hanya dengan sesama muslim saja islam akan tegak dan meraih kemenangan demi kemenangan, tapi dengan syarat harus dipimpin oleh muslim yang beriman, berilmu, profesional, responsibel dan tidak gila jabatan serta yang tidak terjangkit oleh penyakit-penyakit bid'ah, syirik, serangan pemurtadan yang mendangkalkan aqidah dan juga jebakan-jebakan sepilis terutama Pluralisme yang sangat-sangat halus itu. Kemurnian islam ibarat undang-undang yang tidak ada celahnya, adil, rahmat seluruh alam.
Itulah WAY OF LIFE yang sebenarnya, ibarat sebuah 'Master Plan' yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui lagi Maha Berkuasa yaitu Allah SWT. 'Master Plan' menuju kesuksesan dunia dan kejayaan akhirat.
Islam tidak akan tegak dengan kekafiran yang jelas-jelas adalah kesesatan dan kebodohan yang tidak memiliki berkah, karena kekafiran tidak mampu membedakan mana yang paling benar dan mana yang kepalsuan sejati.
"Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah itulah yang menang." (Al-Ma'idah: 56)

Muslim dan kafir amatlah jauh berbeda, dalam hal idiologi saja sudah sangat jauh benturannya apalagi kepentingan dan tujuannya.
"Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang islam itu seperti orang-orang yang berdosa (kafir)?" (Al-Qalam: 35)
Sudah saatnya orang-orang yang sering mengakui dirinya telah mendapat hidayah Allah, memikirkan kembali apakah ada manfaatnya jika sesama muslim mau saja diadu domba oleh orang yang gila sekali dengan jabatannya. orang-orang tersebut jelas harus mempelajari kembali, mana yang berbuat kebajikan dan mana yang berbuat dosa, dosa akibat menyekutukan agama Allah dengan agama kafir, dosa berkhianat dan mengadu domba sesama muslim.
Dan dengan tidak bermaksud menyombongkan diri, sepertinya saya pun harus memikirkan kembali manfaat mendengarkan 'gonggongan' 'anjing' yang bersurban disiang bolong.

Syahran.
Selasa, 4 April 2006.

   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 19418   Help/FAQ   Terms   Imprint