ARTIKEL: Membedah Agama Budha

Apa yang di ketahui tentang kehidupan Budha terutama di dasarkan pada bukti dari naskah-naskah kanonik (atau resmi). Yang paling banyak & lengkap dari antaranya ialah yang di tulis dalam bahasa Pali, sebuah bahasa India kuno -World Religions, From Ancient History to the Present- . Naskah agama Budha paling tua di tulis dalam bahasa Pali, yang katanya serumpun dengan bahasa yang di gunakan oleh
sang Budha, kira-kira pada abad pertama S.M. Naskah ini diterima oleh aliran Therawada sebagai naskah autentik. Naskah ini terdiri dari 31 buku yang disusun menjadi tiga kumpulan yang disebut Tipitaka (bahasa Sansekerta, Tripitaka), artinya "Tiga Keranjang" atau "Tiga Kumpulan".
Winaya Pitaka (Keranjang Disiplin) sebagian besar memuat kaidah dan peraturan para biarawan dan biarawati, Sutta Pittaka (Keranjang Pembicaraan) berisi Khotbah, perumpamaan, dan peribahasa yang diucapkan oleh Budha dan murid-muridnya yang utama. Akhirnya, Abhidhamma Pitaka ( Keranjang Doktrin Pokok) memuat komentar-komentar mengenai doktrin agama Budha.
Sebaliknya kitab-kitab aliran Mahayana kebanyakan ditulis dalam bahasa Sansekerta, Tionghoa & Tibet, jumlahnya amat banyak. Naskah dalam bahasa Tionghoa saja terdiri dari 5.000 jilid lebih. Naskah-naskah ini terisi banyak pendapat yang tidak dimuat dalam tulisan-tulisan yang lebih tua, misalnya, kisah tentang Budha ada sebanyak pasir di sungai Gangga, yang kabarnya sudah hidup selama jutaan tahun, masing-masing memimpin dunia Budha-nya sendiri.
Tidaklah berlebihan apabila seorang penulis mengemukakan bahwa naskah-naskah ini 'bercirikan keanekaragaman', khayalan yang tidak kepalang, tokoh-tokoh yang menarik dan pengulangan yang tidak serasi.
Menurut buku-buku kronik Sri Lanka abad ke empat & ke enam M., yang paling tua dari 'naskah-naskah kanonik' bahasa Pali ini ditulis selama pemerintahan Raja Vatagamani Abhaya pada abad pertama S.M. kisah lain tentang kehidupan Budha baru dicatat barangkali pada abad pertama atau bahkan abad ke kelima M., hampir seribu tahun setelah zamannya. Maka, menurut buku Abingdon Dictionary of Living Religions, "Riwayat hidupnya, dibuat jauh setelah zamannya & ini penuh berisi legenda & mitos,
dan naskah kanonik tertua itu merupakan hasil cerita dari mulut ke mulut yang memakan waktu yang lama yang ternyata mencakup beberapa perbaikan & banyak tambahan." Bahkan ada sarjana berpendapat tidak ada satu katapun dari ajaran yang tertulis itu dapat dikatakan dengan pasti berasal dari Guatama sendiri.
Walaupun ada banyak mitos, ada suatu kisah tradisional tentang kehidupan Budha yang beredar secara luas. Sebuah buku modern, A Manual of Budhism, yang diterbitkan di Kolombo Sri Lanka, memuat kisah yang disederhanakan berikut ini.
"Pada hari bulan purnama dibulan Mei tahun 623 S.M. Lahirlah didistrik Nepal seorang Pangeran Sakya, bernama Sidhatha Gotama. Raja Sudhodana adalah ayahnya, dan Ratu Maha Maya adalah ibunya. Ibunya meninggal beberapa hari setelah melahirkan anaknya dan Maha Pajapati Gotami menjadi ibu angkatnya.
"Pada umur enam belas tahun ia menikah dengan saudara sepupunya, puteri Yasodhara yang cantik.
"Selama berlalunya waktu, kebenaran perlahan-lahan mulai tersingkap kepadanya. Ketika ia berumur 29 tahun, yang menjadi titik balik dalam karirnya, putranya Rahula lahir. Ia menganggap puteranya sebagai penghalang, sebab ia menyadari bahwa semua orang tanpa kecuali harus mengalami kelahiran, penyakit dan kematian. Menyadari bahwa duka-cita itu bersifat universal, ia memutuskan untuk mencari jalan keluar bagi penyakit umat manusia yang bersifat universal ini.
"Dengan membuang kenikmatan kerajaannya, ia meninggalkan rumah pada suatu malam...menggunting rambutnya, mengenakan pakaian sederhana seorang petapa, dan mengembara sebagai Pencari Kebenaran."
Kisah hidup yang ringkas ini sangat berbeda dengan kisah fantastis yang terdapat dalam naskah-naskah kanonik. Dan kecuali tahun kelahirannya, kisah ini diterima umum.
Pengalaman kesedihannya melihat orang sakit, tua dan orang mati. Konon kemudian ia melihat seorang suci, orang yang telah meninggalkan dunia guna mencari kebenaran. Ini mendorong Gautama untuk meninggalkan keluarga, harta benda & namanya sebagai pangeran & menghabiskan enam tahun berikutnya untuk mencari jawaban dari para pengajar Hindu & guru, tetapi tidak berhasil. Kisah itu mengatakan bahwa ia menyangkal diri secara ekstrem, namun ia tidak menemukan ketentraman rohani atau pencerahan.
Akhirnya ia menyadari bahwa haluannya menyangkal diri yang ekstrem sama sia-sianya seperti hidup memuaskan diri yang ia jalani dulu. Ia sekarang menempuh apa yang disebutnya Jalan Tengah, menjauhi hal-hal ekstrem dalam gaya hidup yang ditempuhnya dulu. Yakin bahwa jawabannya terdapat dalam kesadarannya sendiri, ia duduk bermeditasi dibawah pohon pipal, atau pohon ara India. Dengan menangkis serangan maupun godaan si Iblis Mara, ia bertekun dalam meditasinya selama 4 minggu (ada yang mengatakan 7 minggu)
sampai menurut dugaan ia sudah jauh menguasai semua pengetahuan & pengertian serta memperoleh pencerahan (penyuluhan rohani).
Melalui proses ini, dalam istilah agama Budha, Gautama menjadi Budha -orang yang telah bangun, atau telah menerima pencerahan. Ia telah mencapai tujuan akhir, Nirwana, keadaan damai yang sempurna & diterangi secara rohani, bebas nafsu & penderitaan. Ia juga dikenal sebagai Sakyiamuni (orang bijaksana suku Sakya), dan ia sering menyebut dirinya 'tathagata' (orang yang datang [untuk mengajari]). Namun sekte-sekte lain dalam agama Budha mempunyai pendapat lain pula mengenai pokok ini.
Ada yang memandang dia semata-mata sebagai seorang manusia yang telah menemukan jalan pencerahan bagi dirinya & mengajarkannya pada pengikutnya. Ada juga yang memandang dia sebagai yang terakhir dari serangkaian Budha yang datang kedunia untuk menghidupkan kembali dharma (bahasa Pali, Dhamma), ajaran atau jalan sang Budha. Tetapi yang lain lagi memandang dia sebagai Bodhisatwa, orang yang mencapai pencerahan tetapi yang menunda memasuki Nirwana guna membantu orang lain yang sedang mencari pencerahan.
Khotbahnya yang pertama & barangkali yang paling penting disampaikan dikota Benares, ditaman, kepada lima orang biksu-murid atau biarawan. Dalam khotbahnya itu, ia mengajarkan bahwa supaya selamat, orang harus menjauhi haluan memuaskan hawa nafsu & haluan sebagai petapa & mengikuti jalan Tengah. Kemudian, orang harus mengerti & mengikuti Empat Kebenaran yang Mulia:
1. Semua kehidupan adalah penderitaan
2. Penderitaan timbul dari nafsu atau keinginan
3. Berhentinya nafsu berarti berakhirnya penderitaan
4. Berhentinya nafsu dicapai dengan mengikuti Delapan jalan, mengendalikan tingkah laku, pikiran & kepercayaan seseorang.
Berikut merupakan kutipan bagian terakhir dari empat kebenaran "Sekarang, O para biksu, inilah kebenaran mulia mengenai jalan yang membawa kepada pemadaman dukacita. Sesungguhnya, ini adalah delapan jalan; maksudnya: pandangan yang benar; cita-cita yang benar; tutur kata yang benar; mata pencaharian yang benar; upaya yang benar; perhatian yang benar; dan renungan yang benar."
Agama Budha mengajarkan jalan kepada kebaikan & hikmat yang sempurna tanpa Tuhan yang suatu pribadi; pengetahuan terhadap tinggi tanpa suatu wahyu:...kemungkinan penebusan tanpa penebus perantara, keselamatan yang setiap insan adalah penyelamat dirinya sendiri. -The Massage of Budhism, karangan Biksu Subhadra, yang dikutip dalam buku What Islam Budism? Lalu apakah orang Budha itu Atheis? Buku What Is Budism? Yang diterbitkan oleh The Budhis Lodge, London, menjawab:
:Jika dengan atheis anda maksudkan seseorang yang menolak konsep tentang suatu Tuhan pribadi, kami memang demikian. Selanjutnya buku itu menjelaskan: "Pikiran yang tumbuh dewasa dapat dengan mudah memahami gagasan tentang suatu Alam Semesta yang dibimbing oleh Hukum yang tidak berubah, sama seperti ia dapat memahami konsep tentang diri Pribadi yang jauh yang tak pernah dilihatnya, yang tinggal ditempat yang tidak diketahuinya & yang pada suatu waktu menciptakan dari ketiadaan suatu alam semesta yang
dirembesi oleh permusuhan, ketidakadilan, kesempatan yang tidak merata & penderitaan serta perselisihan yang tiada henti-hentinya. Jadi dalam teori, agama Budha tidak mendukung kepercayaan kepada Tuhan atau sang pencipta. Tetapi kuil & stupa Budhis dewasa ini terdapat hampir disetiap negeri tempat agama Budha dipraktekkan, dan patung budha serta barang peninggalan budha & bodhisatwa telah menjadi obyek doa, persembahan & pemudjaan umat Budha yang taat,
Sang Budha yang tidak pernah mengaku sebagai Tuhan telah menjadi Tuhan dalam arti yang seluas-luasnya.
Dalam ajarannya yang menandaskan setiap orang harus mengupayakan keselamatannya sendiri, dengan melihat kedalam pikiran atau kesadarannya sendiri untuk memperoleh pencerahan, agama Budha sesungguhnya adalah agnostik kalau bukan disebut atheis.
Dalam upaya untuk membebaskan diri dari belenggu takhayul agama Hindu dan kumpulan Dewa mitosnya yang begitu banyak, agama Budha telah berayun keujung yang lain. Agama Budha menyangkal konsep dasar tentang Pribadi Yang Maha Kuasa, yang menyebabkan segalanya ada dan bergerak.
Karena cara berpikir yang berpusat pada diri sendiri & independen ini, hasilnya adalah legenda, tradisi yang sangat membingungkan, doktrin yang rumit, & tafsiran yang dikemukakan oleh berbagai aliran & sekte selama berabad-abad. Apa yang dimaksudkan sebagai pemecahan sederhana atas masalah hidup yang rumit telah berubah menjadi sistem keagamaan & filsafat yang sulit dimengerti oleh kebanyakan orang.
Sebaliknya, para pengikut awam agama Budha masih terpukau oleh penyembahan berhala & benda-benda peninggalan, dewa-dewa & hantu-hantu, roh & leluhur, serta melakukan berbagai macam upacara & perbuatan yang tidak ada kaitannya dengan ajaran Gautama, sang Budha. Jelaslah bahwa upaya mencari pencerahan tanpa Tuhan tidak akan membawa hasil.
Walaupun hal yang umum dapat menyebutkan bahwa Budha sebagai agama, dalam kenyataan agama ini terbagi menjadi beberapa aliran. Berdasarkan berbagai macam penafsiran mengenai sifat Budha & ajarannya, masing-masing aliran mempunyai doktrin, praktik & kitab sucinya sendiri-sendiri. Aliran ini selanjutnya pecah menjadi banyak kelompok & sekte, banyak diantaranya sangat dipengaruhi oleh kebudayaan & tradisi setempat.
Aliran Budha Therawada (jalan orang tua-tua), atau Hinayana (kendaraan kecil), berkembang di Srilanka, Myanmar (Birma), Thailand, Kampuchea (Kamboja) & Laos. Beberapa orang menganggap ini aliran yang konservatif. Aliran ini menandaskan perlunya memperoleh hikmat & mengusahakan keselamatan diri sendiri dengan menolak dunia & hidup sebagai biarawan, mencurahkan diri kepada meditasi & pelajaran dalam biara. Aliran Budha Mahayana (kendaraan besar), umumnya terdapat di Tiongkok, Korea, Jepang & Vietnam.
Aliran ini dinamai demikian karena menandaskan ajaran Budha bahwa "kebenaran & jalan keselamatan adalah bagi semua, tidak soal ia tinggal dalam sebuah gua atau biara. Mahayana kemudian berkembang menjadi sekte di Tiongkok & Jepang, terdapat aliran Negeri Murni & Zen. Agama Budha aliran Zen (aliran Ch'an di Tiongkok) memperoleh namanya dari praktik meditasinya. Kata Ch'an (bahasa Tionghoa) & kata Zen (bahasa Jepang) merupakan variasi dari kata Sansekerta dhyana, berarti 'meditasi'.
Akhirnya agama Budha Tibet ata Lamaisme. Bentuk agama Budha ini kadang-kadang disebut Mantrayana (Kendaraan Mantra) karena banyak menggunakan mantra.
Di beberapa negeri diatas tadi, suatu hal yang umum untuk melihat kelompok pemuda dengan kepala digundul, jubah kuning jingga, tanpa alas kaki, membawa mangkok sedekah untuk menerima kebutuhan mereka sehari-hari dari penganut awam yang berkewajiban menunjang mereka. Suatu yang lazim bagi kaum pria untuk menggunakan sedikitnya sebagian hidup mereka dalam biara.
Tujuan akhir dari kehidupan di biara adalah untuk menjadi seorang Arhat, yaitu orang yang telah mencapai kesempurnaan rohani & kelepasan dari rasa sakit & penderitaan dalam siklus kelahiran kembali. Sang Budha telah menunjukkan jalannya, terserah kepada masing-masing untuk mengikutinya.
M. Hasan
Senin, 15 Mei 2006
[disari dari berbagai sumber]