Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: WHICH IS UR FAVOURITE LEADER OF PAKISTAN? · More of this
    Search
 

   

ARTIKEL: Konsep Al-Attas Tentang Ta'dib
ARTIKEL: Konsep Al-Attas Tentang Ta'dib - learn syahran
[Sebuah gagasan Pendidikan yang Tepat dan Konprehensif dalam Islam. Konsep yang diciptakan oleh Intelektualis Muslim zaman modern, namun ditentang oleh sebagian kelompok umat islam yang tidak memiliki ilmu pengetahuan yang sebanding dengan Naquib al-Attas]

Syekh Muhammad Naquib al-Attas (lahir 1931), pemikir kontemporer Muslim pertama yang mendefinisikan arti pendidikan secara sistimatis, menegaskan dan menjelaskan bahwa tujuan pendidikan menurut Islam bukanlah untuk menghasilkan warga negara yang baik & tidak pula pekerja yang baik (sosial politik pemerintahan). Sebaliknya, tujuan tersebut adalah untuk menciptakan manusia yang baik.
Yang perlu ditekankan [dalam pendidikan] adalah nilai manusia sebagai manusia sejati, sebagai warga dari kota yang terdapat dalam dirinya, sebagai warga negara dalam kerajaanya yang mikro, sebagai sesuatu yang bersifat spiritual, [dan dengan demikian yang ditekankan itu] bukanlah nilai manusia sebagai entitas fisik yang diukur dalam konteks pragmatis dan utilitarian berdasarkan kegunaannya bagi negara, masyarakat dan dunia.

Al-Attas berpendapat bahwa warga negara atau pekerja yang baik dalam sebuah negara sekuler tidak semestinya sama dengan manusia yang baik, sebaliknya, manusia yang baik sudah pasti seorang pekerja dan warga negara yang baik. Sangat jelas sekali bahwa jika majikan ataupun negara itu baik, sebagaimana yang didefinisikan dalam Framework Islam, maka menjadi pekerja ataupun warga negara yang baik bisa dikatakan sama dengan menjadi manusia yang baik.
Hanya saja yang namanya negara Islam terlebih dahulu mengandaikan akan keberadaan dan partisipasi aktif umat Islam yang kritis. Dalam karyanya selanjutnya, al-Attas menekankan bahwa penekanan terhadap individu bukan hanya sesuatu yang prinsipil, melainkan juga merupakan "strategi yang jitu" pada masa-masa ini. Dia selanjutnya mengingatkan bahwa:
"Penekanan terhadap individu mengimplikasikan....pengetahuan tentang akal, nilai dan spirit, dan tentang tujuan dan maksud yang sebenarnya [dari kehidupan ini], sebab akal, nilai dan spirit adalah unsur-unsur yang inheren dalam setiap individu....[Sedangkan] penekanan terhadap masyarakat dan negara....membuka pintu yang menuju kepada legalitas dan politik."
Namun begitu al-Attas juga mengatakan bahwa islam pun bisa menerima ide pembentukan warga negara yang baik sebagai objektif pendidikan, "hanya saja yang kami maksudkan dengan 'warga negara' disini adalah Warga Negara dari PEMERINTAHAN yang lain, yang selalu memungkinkannya untuk menjadi manusia yang baik." Dikarenakan posisinya sebagai agen moral, maka menurut Islam manusialah yang kelak akan diberi pahala atau azab di Hari Perhitungan.
MANUSIA BERADAB
Al-Attas mengatakan bahwa orang yang terpelajar adalah orang baik, dan 'baik' yang dimaksudkannya disini adalah adab dalam artian yang menyeluruh, "yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kwalitas kebaikan yang diterimanya." (tidak seperti KORUPTOR teriak KORUPSI HARAM, atau orang dungu yang tidak mengerti apa yang ia sampaikan dalam khotbahnya karena pesanan orang lain "Surury")
Oleh karena itulah makanya orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefinisikan al-Attas sebagai orang yang beradab. Tulisnya:
"Orang yang baik itu adalah orang yang menyadari sepenuhnya akan tanggungjawab dirinya kepada Tuhan yang Haq, yang memahami dan menunaikan kewajiban terhadap dirinya sendiri dan orang lain yang terdapat dalam masyarakatnya [kecuali membantu si Penggila Jabatan], yang selalu berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kearah kesempurnaan sebagai manusia yang beradab."
Al-Qur'an menegaskan bahwa contoh ideal bagi orang yang beradab adalah Nabi Muhammad s.a.w., yang oleh kebanyakan sarjana Muslim disebut sebagai manusia Sempurna atau Manusia Universal (al-insan al-kulli). Oleh karenanya pengaturan administrasi pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam sistem pendidikan Islam haruslah merefleksikan Manusia yang sempurna.
Kalau benar-benar difahami dan dijelaskan dengan baik maka konsep TA'DIB adalah konsep yang PALING TEPAT UNTUK PENDIDIKAN ISLAM, BUKAN DENGAN TARBIYAH ATAUPUN TA'LIM sebagaimana yang dipakai pada masa itu. Dia mengatakan:
"Struktur konsep Ta'dib sudah menyangkut unsur-unsur ilmu ('ilm), instruksi (ta'lim), dan pembinaan yang baik (tarbiyah), sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam itu adalah sebagaimana yang terdapat dalam tiga serangkai konotasi Tarbiyah-Ta'lim-Ta'dib." (CEII, hal.34)
Walaupun Al-Qur'an tidak memakai istilah adab ataupun istilah lain yang mempunyai akar kata yang sama dengannya, perkataan adab itu sendiri dan cabang-cabangnya disebutkan dalam ucapan-ucapan Nabi s.a.w., para sahabat r.a., dan puisi ataupun karya sarjana-sarjana Muslim yang datang setelah mereka.
Perkataan adab mempunyai arti yang sangat luas dan mendalam. Akan tetapi kemudian dia digunakan dalam konteks yang terbatas, seperti untuk sesuatu yang merujuk pada KAJIAN KESUSASTRAAN dan etika Profesional dan Kemasyarakatan. Al-Attas berpendapat bahwa ide yang dikandung dalam perkataan ini sudah di Islamisasikan dari konteks yang dikenal pada masa sebelum Islam dengan cara menambah elemen-elemen spiritual dan intelektual.
Dalam konteksnya yang baru ini Al-Qur'an dianggap sebagai undangan Tuhan kepada manusia untuk menghadiri jamuan makan diatas muka bumi (ma'dabat Allah fi lardh), dimana kita perlu mengambil bagian didalamnya dengan cara mengetahuinya (fa ta'allamuu min ma'dabatih). Al-Attas menjelaskan:
"Kitab Suci Al-Qur'an adalah undangan Tuhan kepada manusia untuk menghadiri jamuan kerohanian, dan cara memperoleh ilmu pengetahuan yang sebenarnya tentang Al-Qur'an itu adalah dengan menikmati makanan-makanan yang lezat yang tersedia didalam jamuan kerohanian tersebut. Artinya, karena kenikmatan makanan yang yang lezat dalam jamuan istimewa itu ditambah dengan kehadiran kawan yang Agung dan Pemurah,
dan karena makanan tersebut dinikmati menurut cara-cara, sikap, dan etiket yang suci, maka hendaknya ilmu pengetahuan yang dimuliakan dan sekaligus dinikmati itu didekati dengan perilaku yang sesuai dengan sifatnya yang mulia.."
Al-Attas kemudian merujuk kepada hadits lain yang berbunyi: "Tuhan telah mendidikku (addabani, yang secara literal bermaksud telah menanamkan adab pada diriku), maka sangat baiklah mutu pendidikanku (ta'dibi)." Al-Attas secara berhati-hati menerjemahkan kata kerja addabani yang terdapat dalam hadits tersebut dengan "telah mendidikku" dan kemudian mengartikan perkataan ta'dib dengan PENDIDIKAN.
Dari situ maka terjemahan hadits tersebut adalah: Tuhan telah mendidikku dan menjadikan pendidikanku sebaik-baik pendidikan." Al-Attas mengutip Ibnu Manzhur yang menyamakan Addaba dengan 'Allama, sesuatu yang memperkuat posisinya dalam mengatakan bahwa konsep pendidikan Islam yang betul itu adalah Ta'dib.
Menurut hemat kami, al-Attas adalah orang pertama yang memahami dan menerjemahkan perkataan 'addabani' dengan 'mendidikku'. Menurut sarjana-sarjana terdahulu, isi kandungan ta'dib adalah akhlak. Fakta bahwasanya pendidikan Nabi Muhammad s.a.w. dijadikan Allah sebagai pendidikan yang terbaik didukung oleh Al-Qur'an yang mengafirmasikan kedudukan Rasulullah yang mulia (akram), suri teladan yang paling baik.
Hal itu kemudian dikonfirmasikan oleh hadits Nabi yang mengatakan bahwa misinya adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia: "Innama bu'itstu li-utammima husna 'l-akhlaq."
Seseorang yang paling sempurna imannya menurut Rasulullah s.a.w. adalah orang yang paling baik akhlaknya. [Jelas sekali jika seseorang bersikap gila jabatan dengan tidak mau turun dari jabatan karena gagal menjalankan jabatannya dengan benar, malah menyesatkan orang lain dari aktifitas Nabi s.a.w. dan Al-Qur'an, berarti hawa nafsunya adalah imannya].
Telah didapat kesimpulan bahwa aktifitas Nabi s.a.w., berupa pengajaran Al-Qur'an (yu'allimu 'l-Kitab) dan hikmah dan pensucian ummat adalah manifestasi langsung dari peranan Ta'dib. Dengan demikian, menurut al-Attas, dari sejak awal kedatangan Islam, adab secara konsep telah diisi dengan ilmu yang benar ('ilm) dan perbuatan yang tulus dan tepat ('amal), dan terlibat aktif dalam wacana intelektual sunnah-sunnah Nabi Muhammad s.a.w.
Berdasarkan arti perkataan adab yang telah di Islamisasikan itu dan berangkat dari analisis semantisnya, al-Attas mengajukan definisinya tentang adab:
"Adab adalah pengenalan dan pengakuan terhadap realitas bahwasanya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hirarki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya, dan bahwa seseorang itu mempunyai tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas tersebut dan dengan kapasitas serta potensi fisik, intelektual dan spiritualnya."

Syahran
Jum'at, 25 Agustus 2006

[Dikutip dan di edit dari naskah asli Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud dengan judul yang sama. Naskah asli dan lengkapnya telah dipresentasikan pada The First Moscow International Conference on Comparative Philosophy. Dengan tema studi: Moral Philosophy in a Pluralistic Cultural. Diselenggarakan oleh Institute of Philosophy, Russian Academy of Sciences. Pada tanggal 5 sampai 7 Juni 2002]

[Kepada siapa saja yang ingin membaca naskah lengkap dari artikel diatas, silahkan menghubungi:
E-Mail: syahran@gala.net
HP: 081545396732
Dokumen tersebut saya berikan secara gratis.]

   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 23484   Help/FAQ   Terms   Imprint