
Sami’na wa-atho’na sepertinya sudah menjadi sebuah “Kartu Joker” bagi para pemimpin haroqah ketika apa yang dikehendakinya (walaupun disertai hawa nafsu)hendak dipertanyakan oleh para pengikutnya. Tidak selalunya penerapan Sami’na wa-atho’na ini berefek buruk, karena pada zaman dahulu pengikut-pengikut sebuah haroqah bias dikatakan cukup kesulitan dalam mendapatkan dan mencerna serta memahami sebuah anjuran atau perintah. Keterbatasan ruang, waktu dan sarana fisik bisa menjadi alasan juga untuk tetap mengatakan Sami’na wa-atho’na. sekali lagi, tidak selalu menjadi hal yang buruk, mungkin tergantung individunya lagi, Wa-Allahu ‘alam.
Seandainya karakter individunya lebih cendrung egois, maka walau apapun anjuran dan perintah yang diberikan kepada pengikutnya WAJIB diikuti, Katanya… Jika dianjurkan untuk Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) maka jawabannya HARUS Sami’na wa-atho’na. jika diperintahkan untuk “menjilat sepatunya” Toghut jawaban mereka HARUS Sami’na wa-atho’na. jika diperintahkan untuk memilih pemimpin kafir jawabannya tidak boleh selain Sami’na wa-atho’na. jika dianjurkan untuk berkhianat kepada Manhaj dan “selingkuh” dengan orang sesat, maka jawabannya Sami’na wa-atho’na juga. Apalagi jika diperintahkan untuk Berbohong dan menjadi Penipu umat muslim, untuk kampanye PILKADA contohnya, walaupun islam itu sesungguhnya adalah kebenaran, bukan dibangun diatas kebohongan, namun jawaban mereka harus Sami’na Wa-atho’na. Jelas sekali disituasi seperti itu yang HARUS dikritisi dan dikoreksi, tapi terkadang jika sudah dikritisi panjang lebar walaupun sudah diberikan dalil yang paling kuat sejagat raya sekalipun, maka dengan menjunjung tinggi egoisme dan taklid buta, dalil tersebut mereka lemparkan kebelakang punggung mereka dan pura-pura tidak tahu.
Sekali lagi tidak selalunya ”Kartu Joker” ini bernada negatif, apalagi jika ”Kartru Jokernya” berlandaskan dalil yang diperkuat oleh al-Qur’an dan al-Hadits shahih, maka dalil tersebut sudah paling pantas malah WAJIB diikuti tanpa harus bereksperimen dulu. Agak aneh dan menggelitik juga kedengarannya jika ada yang sampai mengatakan kepublik luas dimedia cetak bahwa apa yang dilakukan dan dianjurkan seseorang berdasarkan petunjuk al-Qur’an adalah eksperimentasi atau uji coba belaka, lucu...
Padahal al-Qur’an adalah Kebenaran Mutlak dan Absolut yang diciptakan oleh Dzat Yang Maha Perkasa, Maha Berkuasa yaitu Allah SWT. Mungkin sangat urgen sekali jka kita pisahkan antara Sami’na wa-atho’na kepada Allah dan Sami’na wa-atho’na kepada manusia, apalagi manusia yang bermental gila jabatan. Jelas sekali amat berbeda antara Allah dan manusia, anak kecil pun tahu itu.
Dari sisi sejarah kita sudah mengerti urgensi Sami’na wa-atho’na, tidak perlu saya uraikan lagi disini. Kemudian pada zaman sekarang, dimana informasi dan komunikasi bisa kita dapatkan ditelapak tangan kita hanya dalam hitungan detik saja, sepertinya ruang dan waktu tidak ada apa-apanya lagi, maka apakah Sami’na wa-atho’na kepada para pemimpin masih wajib? Dan apakah sikap seperti itu tergolong ”keikhlasan” beribadah HANYA kepada Allah atau Keikhlasan yang setengah hati? Kecuali ISI PERINTAH dari pemimpin yang memiliki landasan al-Qur’an dan al-Hadits shahih, memang tidak perlu ditanyakan lagi, yang perlu ditanyakan adalah SIKAP pemimpinnya saja. Mau kebenaran atau tidak? Kalau tidak berarti sudah sesat dan menyesatkan. Berpikiran bahwa KKN boleh-boleh saja, jelas sekali pikiran yang sesat. Apalagi sampai mengajak orang lain untuk ikut ber-KKN-ria sudah jelas sebuah tindakan yang menyesatkan. Berpikiran bahwa boleh MEMILIH memilih pemimpin kafir, jelas sekali adalah pikiran yang sesat, Apalagi sampai berkampanye menyuruh orang lain ikut memilih pemimpin kafir sudah jelas tindakan yang Menyesatkan seperti perilaku ”Dajjal” yang juga menyesatkan.
Walaupun sudah bedebat berjam-jam, akan tetap saja sulit untuk menyadarkan mereka, biarpun orang yang mencoba untuk menyadarakannya adalah cendikiawan muslim sekalipun.
Siapapun tidak akan bisa memperbaiki suatu golongan jika golongan tersebut tidak mau mereformasi sistem mereka. Seperti seorang dokter dan orang sakit, sehebat apaupun dokternya kalau orang sakit itu tidak mau berobat ke dokter, sampai kapanpun tetap saja akan selalu menjadi Pesakitan.
Ahad, 29 Oktober 2006
Syahran