ARTIKEL : Merawat Kepercayaan
Kristiani percaya yesus itu tuhan mereka karena hanya sekedar percaya saja, walau sudah dibuktikan dengan bantahan doktrin yang benar-benar meruntuhkan doktrin agama kristen, masih banyak yang tetap memegang kristen sebagai agamanya, alasanya itu lagi; just believe in it. yang cendikiawan, yang sering bergelut dengan dasar-dasar logika pasti akan berpikir ulang jika hanya sekedar percaya, tanpa ada bukti kebenaran dari yang dipercayai. Orang butuh percaya karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi, atau masa depan nanti bagaimana, karena sudah tidak memiliki bukti atau mungkin saja sudah kenyang dengan bukti-bukti yang dicerna, maka untuk merelaksasikan batin dan pikiran, maka ditutuplah pembahasan dengan 'just believe in it'.
Muslim lain lagi, letak kepercayaan mereka justru karena agama lain selain islam sudah tidak bisa dipercaya lagi, agama lain tidak memiliki bukti yang sekuat agama islam, kepercayaan kepada islam didukung oleh naluri kemanusiaan yang sejalan dengan fitrah manusia maupun makhluk-makhluk lainya. Yang seperti ini selalu hadir dibenak para mualaf.
Pada kehidupan individu, kita memberikan kepercayaan kepada makhluk lain dengan ukuran-ukuran tertentu, selalunya ukuran atau batas kepercayaan tersebut kita tentukan sendiri, namun tidak banyak individu yang meletakkan batas tersebut sesuai keadaan yang ada atau proporsional dalam mengukur kepercayaan orang lain. Kadang ukuranya adalah ijazah, piagam, maupun surat-surat resmi pembuktian suatu keahlian. Yang menandatangani surat penting tersebut juga menjadi sebuah ukuran, tanggal, tempat, dan segala hal yang bisa menambah legalitas untuk diukur. Namun sangat sedikit sekali yang memasang ukuran atau batasan untuk memberikan kepercayaan dengan kriteria Moralitas, Pengalaman dan Kepercayaanya sendiri kepada lingkungan sekitar atau saling mempercayai. Ukuran yang bersifat metafisik tersebut lebih mempengaruhi sikap seseorang kepada kepercayaanya, karena contoh saja, apakah Tuhan nantinya akan meminta piagam penghargaan dari presiden agar kita masuk surga? atau contoh lain, para koruptor saat ini apakah yang tidak memiliki gelar sarjana lebih banyak masuk penjara daripada koruptor yang memiliki gelar sarjana maupun diploma? untuk saat ini, seluruh negara memiliki koruptor hampir seluruhnya adalah sarjana. Mungkin semakin tinggi tingkat pendidikanya maka semakin pintar seseorang lalu semakin berani korupsi karena menurut hitunganya sendiri gak akan terungkap korupsinya.
Itu bukti yang tidak bisa dibantah.
Calon anggota legislatif dari partai tertentu yang anggotanya memiliki kesarjanaan memang harus diwaspadai, harus ada pertimbangan lain yaitu agamanya. Namun disisi lain orang yang licik justru lebih mudah menipu dengan berkedok orang alim, yang ini jelas lebih parah moralnya dan pasti lebih parah korupsinya karena didepan Tuhan saja mereka berani menipu apalagi didepan makhluk Tuhan.
Kepercayaan seharusnya diberikan kepada orang yang benar-benar tepat, tidak peduli dari partai mana, keluarga mana, darah mana, suku mana, generasi mana karena hidayah Tuhan tidak mengenal itu semua. Orang yang bisa dipercaya hanya bisa dinilai dari moralnya, intelenjensianya, pengalamananya, dan kepercayaanya kepada orang yang memberikan kepercayaan. Kepercayaan itu mahal, tidak dapat dibeli dengan iming-iming uang, apalagi nomor urut caleg jadi, atau beasiswa pendidikan. Itu harga diri, dan bisa jadi harga diri umat yang digadai.
Saling mempercayai adalah kekuatan suksesnya sebuah misi dan visi. Hilangnya sebuah kepercayaan atau terkikisnya kepercayaan seseorang kepada orang yang telah diberikan kepercayaan akan memberikan efek destruktif terhadap sekitarnya, ini kadang tidak pernah dipertimbangkan. Ketika dua individu yang pernah membangun kepercayaan masing-masing, dan ditengah jalan salah satunya menanyakan dan menguji konsistensi kepercayaan individunya yang lain, karena bibit-bibit kecurigaan, bibit buruk sangka, atau bibit-bibit kesalahpahaman saja bisa merusak semua sistem yang sudah dibangun bersama. Apa pasal? karena individu yang pertama mengalami pelemahan iman sehingga bisikan setan masuk tertanam kedalam pikiranya. Individu kedua ikut termakan bisikan setan ini sehingga terjadilah apa yang saat ini terjadi dilingkungan kita, perpecahan umat, perang saudara, perebutan kekuasaan, dan lain-lain.
Saat ini sangat dibutuhkan saling mempercayai dan tidak mereduksi apalagi menodai kepercayaan kedua pihak dari provokasi setan dan bisikan iblis serta adu domba dajjal, kepercayaan itu harus diperkokoh dalam diri kita masing-masing bukan mempercayakan misi kita kepada setan, iblis ataupun dajjal, itu tidak nyambung, kata para pendahulu kita "Anak sendiri dibiarkan kelaparan, monyet dihutan malah diberi makan". Menjaga misi tetap berjalan memang tidak mudah dan tidak gratis, selalu ada halangan dan rintangan. Kitalah yang menjaganya dan melaksanakanya, jangan sampai "Jatuh nila setetes, rusak susu sebelanga".