ARTIKEL : Berlayar Dengan Kapal Bocor
Yang namanya kapal bocor, kebocoran tersebut sangat sulit terdeteksi. Perlu terjadi kesadaran dalam diri awak kapal untuk mengetahui kapalnya bocor dengan melihat kebawah, melihat genangan air yang masuk dari kebocoran itu, mengobrak-abrik kapal hanya untuk mencari kebocoran tersebut. Penumpang diperintahkan untuk berdiri dari istirahatnya, seluruh barang bawaan diangkat kesana kemari, lantai kapal dibongkar paksa, karena takut mati tenggelam. Kesadaran awak kapal yang bermula dari takut mati itulah yang memulai proses penyelamatan, kesadaran yang timbul akibat naluri yang mengambil alih untuk terus hidup menyelamatkan diri. Tidak perduli jika harus mengorbankan kenyamanan dan ketentraman penumpang, karena masalah kebocoran kapal yang diawali dari lubang pada bagian kapal yang sangat kecil telah menimbulkan kepanikan luar biasa diseluruh kapal, kepanikan karena takut mati tenggelam bersama kapal dan isinya. Mungkin seperti itulah kesibukannya ketika sebuah partai politik besar sedang dirudung masalah. Sebesar apapun sebuah partai, ketika citra telah ternoda walaupun sedikit, seluruh anggota, kader, pengurus maupun simpatisan pasti akan ikut terkena batunya. Kata orang, semakin tinggi memanjat jika terjatuh semakin sakit rasanya, begitu juga dengan partai besar, justru partai besarlah yang akan menerima pengaruh terbesarnya, apalagi dengan citra yang telah terbentuk seperti citra Bersih dan Peduli. Bersih adalah lawan dari kata Kotor, sama seperti kapal yang Terapung maka lawannya adalah Tenggelam. Ketika parpol 'Bersih' telah 'Kotor' maka nilai jual pun tidak ada lagi, penjual buah mangga mengaku bahwa manggu 'Bersih' dari ulat, tetapi ketika isinya dibuka malah ulatnya yang muncul disana-sini 'Kotor' jadinya. Pembeli pun mulai muak karena dibohongi didepan mata. Kejadian baru-baru ini, dimana seorang calon anggota dewan asal Jambi dari partai yang mengaku bersih dan peduli malah membuat kotor partainya sendiri, tidak tanggung-tanggung, seorang calon anggota dewan. Padahal seleksi menjadi calon anggota dewan dari partai yang ngakunya bersih dan peduli sangatlah ketat. Tertangkapnya calon anggota dewan berinisial ZA dari partai bersih dan peduli tersebut di tempat panti pijat yang terkenal sebagai tempat negatif, memang sudah tidak bisa dibantah lagi. ZA pun mengakui tindakannya sendiri yang terekam jelas didepan kamera televisi SCTV dan TVONE bahwa beliau menyesal dan akan mengundurkan diri
karena telah mengotori nama partainya, sambil menangis terisak-isak dan membasahi jenggotnya yang lumayan lebat, tersangka benar-benar telah membuat partainya kalang-kabut memberikan penjelasan kepada semua pihak. Mulai dari pengurus, anggota dan simpatisan dari dalam serta dari luar negeri heboh menanyakan perihal calon anggota dewannya yang tertangkap basah berada dipanti pijat. Tidak hanya internal, pihak eksternal pun ikut hebohnya bukan main. Sejak berita tersebut pertama kali tersiar disaluran SCTV, tepatnya pada acara Liputan 6 Siang, situs-situs berita dan forum gosip pun kian tak karuan menanggapinya. Ada yang sekedar iseng dengan slogan 'Pijat Koq Sewot' sampai kepada menganalisa dengan terperinci kejadiannya terutama alasan sang anggota dewan memasuki panti pijat tersebut.
Entah apakah kita semua sadar dengan kebocoran kapal ini yang sudah terulang berkali-kali, tanpa peduli dengan transportasi lain yang lebih baik dan lebih aman untuk mencapai 'Tujuan' kita. Mungkin dengan tenggelamnya kapal sial ini barulah kita sadar untuk segera meninggalkan kapal dan berpindah ke transportasi lain, namun mungkin sudah terlambat untuk pindah jalur karena bocornya kapal telah menenggelamkan semua isinya kelautan paling kotor. Sebenarnya kapal ini sama saja dengan kapal-kapal lain, buatan manusia bukan buatan superman, dinahkodai oleh manusia juga bukan malaikat, manusia yang sama seperti manusia-manusia dikapal merah, kuning, hijau maupun biru. Kita sebenarnya dari awal tertarik dengan kapal ini hanya karena penjual tiketnya pandai bicara dan memainkan harga. Sedangkan kata pepatah, orang yang pandai bicara sudah pasti pandai berbohong. Memang tidak peduli kapal apapun yang kita naiki pasti semuanya beresiko untuk bocor dan tenggelam, tapi setidaknya nahkodanya bukan penipu yang hanya mengejar harta dan kekuasaan dengan berkedok kapal yang Bersih dan Peduli tapi justru Kotor dan Mengotori.