ARTIKEL : Agar Semua Mengambil Pelajaran Darinya
Beberapa pekan yang lalu saya bertemu dengan teman lama, berbicara banyak hal termasuk Pemilu parpol yang akan berlangsung pada hari Kamis tanggal 9 April 2009 nanti. Sempat juga menyinggung masalah pembangunan tanah bekas kebakaran Lamijung yang sudah bertahun-tahun dibangun tapi sampai sekarang hanya tanah timbunan dan pondasi perumahan saja. Dia mengatakan, sewaktu Bupati yang sekarang ini berkampanye dengan dukungan salah satu partai islam yang mengaku bersih dan peduli pada Pilkada lalu kepada warga korban kebakaran Lamijung, beliau sempat menjanjikan jika terpilih menjadi Bupati Nunukan maka akan membantu pembangunan kembali lokasi bekas kebakaran tersebut. Namun tinggal setahun saja lagi masa jabatan beliau berakhir, janji beliau tersebut bersama salah satu partai islam tidak kunjung ditunaikan. Entah kenapa sampai sekarang partai islam ini seperti tidak peduli lagi dengan gagasannya yang menjadi jualan kampanye merebut kekuasaan. Seperti biasa, sama dengan parpol lainnya, setelah mendapatkan kekuasaan, janji-janji kampanye yang terdahulu tidak kunjung diselesaikan. Warga korban kebakaran Lamijung kecewa karena dibohongi habis-habisan. Sampai-sampai terucap dimulut teman saya kepada warga korban kebakaran Lamijung, "Siapa suruh pilih yang itu".
Bertemu lagi dengan salah satu rekan dari organisasi islam di Nunukan yang dikenal rapi mengelola zakat warga Nunukan. Ternyata dia juga mengajak saya bernostalgia tentang Pemilu parpol 2004 lalu, dimana waktu itu beliau dan organisasinya dilamar oleh partai islam yang sama untuk menjadi calon anggota legislatif dipartai tersebut, saya sendiri waktu itu sempat ikut membantu kampanye mereka. Namun dibalik nostalgia kami tersebut, muncul kekecewaan beliau kepada partai islam tersebut karena banyak hal, terutama sikap partai yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Beliau kecewa karena ketika partai islam tersebut tidak konsisten melaksanakan syariat islam.
Teringat juga ketika saya berdiskusi melalui forum internet dengan seorang jurnalis yang bekerja di Aceh sewaktu musibah Tsunami besar menghantam Aceh. Masih teringat dipikiran saya tentang kesaksian jurnalis tersebut yang mengatakan bagaimana aksi partai islam yang sama lagi, pada awalnya cukup membantu warga Aceh korban Tsunami. Tetapi beberapa minggu kemudian relawan partai islam tersebut malah menjadi tambahan beban berat kepada warga Aceh. Jurnalis tersebut mengatakan
bagaimana relawan tersebut mengambil sebahagian bantuan makanan untuk konsumsi para relawannya sendiri, seharusnya bantuan makanan tersebut khusus diperuntukan bagi korban Tsunami saja. Beliau juga mengatakan sikap kasar relawan partai islam tersebut yang memaki-maki warga Aceh korban tsunami ditenda-tenda pengungsian dengan kata-kata yang sangat tidak pantas seperti kata-kata lemah!, jorok!, tidak mau diatur!, dan lain-lain sehingga hanya menambah beban mental warga Aceh. Jurnalis tersebut mengatakan, relawan-relawan partai islam tersebut tidak pantas berada di Aceh karena datang memberikan bantuan lalu justru menambah kesengsaraan warga Aceh dengan sikap dan tingkah laku yang tidak bermoral.
Berbicara masalah moralitas, partai yang mengaku bernafaskan islam tersebut memang sama bejatnya dengan partai non-islam, saya sendiri diawal-awal terbentuknya partai ini sudah melihat dengan mata saya sendiri banyak penyimpangan moralitas maupun penyimpangan islam. Sampai saat ini ternyata penyimpangan-penyimpangan moral tersebut malah bertambah buruk, terbukti dengan laporan stasiun televisi swasta baru-baru ini yang melaporkan seorang calon anggota legislatif partai politik islam tersebut kedapatan menggunakan jasa panti pijat yang diketahui umum sebagai tempat negatif. Front Pembela Islam sendiri sampai memaki dan mengutuk caleg tersebut dimedia masa karena telah mencoreng nama baik islam.
Sempat teringat juga bagaimana beberapa aktifis organisasi yang bergerak dibidang pendidikan dan dakwah islam mengatakan kepada saya bahwa partai islam tersebut hanya membuat organisasi islam lain kecewa. Aktifis tersebut mengungkapkan, sejak pemilihan presiden tahun 2004 lagi partai islam ini mencari masalah. Beliau mengungkapkan, partai islam ini waktu itu ngambek karena tidak ada organisasi maupun partai politik yang ingin mengusung capres dan cawapres dari internal partai islam tersebut. Lalu balas dendam dengan mempermainkan dukungannya terhadap capres-capres lain, awalnya didepan publik mendukung Amien Rais sehingga aktifis-aktifis organisasi pendidikan dan dakwah islam pun menyambutnya dengan senang, lalu sehari sebelum pencoblosan diam-diam partai islam tersebut berkhianat dibelakang saya menginstruksikan agar anggota, simpatisan, kader dan pengurus partai tersebut mendukung Wiranto sebagai presiden, tetapi tidak sampai 12 jam pemilu dimulai, kembali mengistruksikan agar warga partai islam tersebut mendukung Susilo Bambang Yudoyono
sebagai capres mereka. Hampir seluruh aktifis organisasi pendidikan dan dakwah islam tersebut kecewa bukan main. Saya sendiri yang waktu itu masih berada di internal parpol tersebut mulai mempertanyakan konsistensi mereka sebagai partai islam yang seharusnya bekerjasama dan saling dukung antar organisasi islam, justru organisasi islam malah dipermainkan kesana-kemari.
Di Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR, Partai Islam tersebut ternyata tidak berpihak kepada rakyat kecil. Mereka ikut mendukung kebijakan-kebijakan yang menindas rakyat kecil, salah satu dari sekian banyak kebijakan mereka adalah menyetujui undang-undang Badan Hukum Pendidikan atau BHP yang menghentikan pendanaan keuangan pemerintah untuk lembaga pendidikan tinggi atau kampus, sehingga pendanaan kegiatan kuliah ditanggung sendiri oleh lembaga pendidikan tinggi dan tentu dari dana mahasiswalah yang diperas habis-habisan. Tidak sedikit dari mahasiswa tersebut terpaksa putus kuliah karena tingginya biaya kuliah. Belum lagi siswa dan siswi SMA yang harus mengubur dalam-dalam cita-cita mereka untuk kuliah karena besarnya biaya kuliah di universitas, semua akibat tidak becusnya anggota DPR dari hampir semua partai termasuk partai islam yang mengaku Peduli. Hanya Partai Amanat Nasional yang menolak RUU BHP dan walk-out.
Hampir seluruh organisasi islam dan masyarakat indonesia dikecewakan oleh partai yang mengaku bernafaskan islam dan berasaskan islam ini. Pilcagub di provinsi Jakarta kembali beberapa organisasi dakwah islam yang gencar melakukan sweeping dan penutupan tempat-tempat maksiat di Jakarta tidak luput dikecewakan oleh partai islam tersebut. Organisasi-organisasi dakwah islam tersebut yang selama ini sibuk membersihkan kota Jakarta dari tempat-tempat maksiat, partai islam tersebut justru mendukung calon gubernur Jakarta yang melindungi tempat-tempat maksiat untuk tetap membuka usaha maksiatnya di Jakarta. Entah apakah karena alasan dukungan dana kampanye partai tersebut dari tempat-tempat maksiat, atau karena memang anggota, kader, caleg dan pengurus partai islam tersebut doyan bermaksiat ria secara sembunyi-sembunyi.
Entah sampai kapan organisasi-organisasi islam dan umat islam terus menerus dikecewakan, dikhianati dan diingkari oleh janji-janji yang ditawarkan oleh partai yang mengaku bernafaskan islam ini. Saya pun heran, kenapa bisa kita sebagai umat islam selalu saja terperosok kelubang partai yang sama, sedangkan binatang Keledai saja hanya satu kali terperosok kelubang tersebut. Apakah kita, umat islam dan organisasi-organisasi dakwah islam lebih rendah derajatnya daripada binatang Keledai? Saya pernah mempertanyakan secara pribadi sikap dan dukungan beberapa pengurus serta pimpinan organisasi islam yang sampai saat ini masih mendukung partai tersebut,
saya pun mempertanyakan kadar loyalitas mereka terhadap organisasi mereka sendiri atau malah lebih loyal kepada partai tersebut. Karena dukungan mereka hanya akan menghancurkan umat islam seperti halnya mereka telah menghancurkan moralitas internal partai mereka sendiri. Tidak ada alasan untuk saling tolong-menolong dengan partai tersebut, karena menolong mereka sama dengan menolong pengkhianat syariat islam, menolong mereka sama dengan menolong penghancuran umat islam, bekerjasama dengan mereka sama dengan bekerjasama dengan musuh umat islam, mendukung mereka sama dengan mendukung kebatilan. Semua sudah terbukti dengan nyata sekali.